- Keberhasilan proses belajar lebih banyak
ditentukan oleh siswa itu sendiri.
Teori belajar gestalt
Gestalt adalah merupakan salah satu teori yang
menjelaskan bahwa proses persepsi melalui pengorganisasian suatu
komponen-komponen yang memiliki hubungan, pola, dan juga kemiripan yang bersatu
menjadi satu kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme.
Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi dalam pembagian sensasi menjadi
bagian-bagian kecil. Teori Gestalt ini dibangun oleh tiga
orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and WolfgangKöhler. Mereka menyimpulkan
bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya
sebagai satu kesatuan yang utuh.
Akhmad Sudrajat menguraikan beberapa Aplikasi
teori Gestalt dalam proses pembelajaranantara lain :
1.Pengalaman tilikan (insight) bahwa
tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses
pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu
kemampuan mengenal keterkaitan pada unsur-unsur dalam suatu obyek atau
peristiwa yang terjadi.
2.Pembelajaran yang bermakna (meaningfull learning);
arti dari unsur-unsur yang terkait akan menunjang pada pembentukan tilikan
dalam proses pembelajaran. Semakin jelas makna hubungan suatu unsur maka akan
semakin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan
pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan
alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya
memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses dalam kehidupannya.
3.Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa
perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan
stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai.
Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan
yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari bahwa
tujuannya adalah sebagai arah aktivitas pada pengajaran dan untuk membantu
peserta didik dalam memahami tujuannya.
4.Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku
individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh sebab
itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan
kondisi yang ada dalam lingkungan kehidupan peserta didik.
5.Transfer dalam Belajar (transfer knowledge);
yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke
situasi lain dalam pembelajaran. Menurut pandangan Gestalt, bahwa transfer
belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi
dalam situasi tertentu yang kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain
dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan
prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun
ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta
didik telah menangkap maksud prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan
menemukan generalisasi yang kemudian akan digunakan dalam memecahkan masalah
dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta
didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
Teori
belajar kecerdasan ganda
Teori
Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences) merupakan teori yang dicetuskan oleh
Howard Gardner. Pada dasarnya, teori ini menggabungkan antara potensi-potensi
otak kanan dan otak kiri sehingga potensi-potensi tersebut dapat berjalan
optimal.
Menurut teori multiple
intelligences, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
(1) Setiap orang memiliki kedelapan
kecerdasan, hanya saja profil tiap orang mungkin berbeda. Ada yang tinggi pada
semua jenis kecerdasan ada pula yang hanya rata-rata dan tinggi pada dua atau
tiga jenis kecerdasan.
(2) Orang dapat mengembangkan setiap
kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai; Kecerdasan dapat
distimulasi, dikembangkan sampai batas tertinggi melalui pengayaan, dukungan
yang baik, dan pengajaran.
(3) Kecerdasan-kecerdasan umumnya
bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks. Dalam aktivitas sehari-hari,
kecerdasan saling berkaitan dalam satu rangkain : menendang bola (kinestetik),
orientasi diri di lapangan (spasial), mengajukan protes ke wasit (linguistik
dan interpersonal)
(4) Ada banyak cara untuk menjadi
cerdas dalam setiap kategori
Seseorang yang cerdas linguistik
mungkin tidak pandai menulis, tetapi pandai bercerita dan berbicara secara
memukau.
Kelebihan Teori Kecerdasan Ganda
-Teori ini mampu mengeksplorasi
semua kecerdasan manusia baik potensi yang ada dalam otak kiri dan kanan.
-Teori kecerdasan ganda mempunyai
delapan komponen yang masing-masing dapat dioptimalkan melalui latihan.
Kelemahan Teori Kecerdasan Ganda
Teori Kecerdasan Ganda kurang
memperhatikan moral. Padahal, moral merupakan aspek penting selain kecerdasan
otak. Banyak kasus membuktikan bahwa kecerdasan otak yang tanpa diimbangi
dengan kecerdasan moral hasilnya akan kurang baik.
Teori
belajar social
Teori
belajar sosial dikenalkan oleh Albert Bandura, yang mana konsep dari teori ini
menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Menurut
Bandura, orang belajar melalui pengalaman langsung atau pengamatan (mencontoh
model). Orang belajar dari apa yang ia baca, dengar, dan lihat di media, dan
juga dari orang lain dan lingkungannya.
Albert
Bandura mengemukakan bahwa seorang individu belajar banyak tentang perilaku
melalui peniruan / modeling, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement)
sekalipun yang diterimanya. Proses belajar semacam ini disebut
"observational learning" atau pembelajaran melalui pengamatan. Albert
Bandura (1971), mengemukakan bahwa teori pembelajaran sosial membahas tentang
(1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh
lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning,
(2) cara pandang dan cara pikir yang
kita miliki terhadap informasi,
(3) begitu pula sebaliknya,
bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat
(reinforcement) dan observational opportunity.
Teori belajar van hiele
Teori
Belajar Van Hiele dikembangkan
dalam geometri. Van Hiele adalah seorang pengajar
matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan, melalui
observasi dan tanya jawab, kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam
disertasinya pada tahun 1954. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan
beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam
memahami geometri. Menurut Van Hiele mterdapat 5 tahap pemahaman geometri
yaitu: pengenalan, analisis, pengurutan, deduksi, dan
akurasi. Berikut ini tahap-tahap
perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri yang bisa dikembangkan dalam
pembelajaran lainnya.
a) Tahap Visualisasi (Pengenalan)
b) Tahap Analisis (Deskriptif)
c) Tahap Deduksi Formal (Pengurutan
atau Relasional)
d) Tahap Deduksi
e) Tahap Akurasi (tingkat
metamatematis atau keakuratan)
Menurut Van Hiele seorang anak
yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak
mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada
pada tingkat yang lebih tinggi dari anak
tersebut. Kalaupun anak itu dipaksakan untuk memahaminya,
anak itu baru bisa memahami
melalui hafalan saja bukan melalui
pengertian. Adapun fase-fase pembelajaran yang menunjukkan
tujuan belajar siswa dan peran guru dalam
pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. Fase-fase pembelajaran
tersebut adalah:
1) fase informasi,
2) fase orientasi,
3) fase eksplisitasi,
4) fase orientasi bebas, dan
5) fase integrasi.
Teori belajar revolusi sosiokultural
Sosiokultural berasal dari dua kata yaitu sosio dan kultural,
sosio berarti berhubungan dengan masyarakat dan kultural berarti berhubungan
dengan kebudayaan. Jadi, sosiokultural adalah berkenaan dengan segi sosial
dan budaya masyarakat.
Aplikasi Teori Sosio-Kultural
Aplikasi teori sosio-kultural dalam
pendidikan. Penerapan teori sosio-kultural dalam pendidikan dapat terjadi pada
3 jenis pendidikan yaitu:
1. Pendidikan informal
(keluarga)
Pendidikan anak dimulai dari
lingkungan keluarga, dimana anak pertama kali melihat, memahami, mendapatkan
pengetahuan, sikap dari lingkungan keluarganya. Oleh karena itu perkembangan
prilaku masing-masing anak akan berbeda manakala berasal dari keluarga yang
berbeda, karena faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dalam keluarga
beragam, misalnya: tingkat pendidikan orang tua, faktor ekonomi keluarga,
keharmonisan dalam keluarga dan sebagainya.
2. Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal yang berbasis
budaya banyak bermunculan untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan, dan
perilaku pada anak, misalnya kursus membatik. Pendidikan ini diberikan untuk
membekali anak hal-hal tradisi yang berkembang di lingkungan sosial
masyarakatnya.
3. Pendidikan formal
Aplikasi teori sosio-kultural pada
pendidikan formal dapat dilihat dari beberapa segi antara lain:
a) Kurikulum.
Khususnya untuk pendidikan di
Indonesia pemberlakuan kurikulum pendidikan sesuai Peraturan Menteri nomor 24
tahun 2006 tentang pelaksanaan KTSP, Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2006
tentang standar kompetensi, dan Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 tentang
standar kompetensi dan kompetensi dasar, jelas bahwa pendidikan di Indonesia
memberikan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap kepada anak untuk
mempelajari sosio-kultural masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional
melalui beberapa mata pelajaran yang telah ditetapkan, di antaranya: pendidikan
kewarganegaraan, pengetahuan sosial, muatan lokal, kesenian, dan olah raga.
b) Siswa
Dalam pembelajaran KTSP anak
mengalami pembelajaran secara langsung ataupun melalui rekaman. Oleh sebab itu
pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap bukan sesuatu yang verbal tetapi anak
mengalami pembelajaran secara langsung.Selain itu pembelajaran memberikan
kebebasan anak untuk berkembang sesuai bakat, minat, dan lingkungannya
pencapaiannya sesuai standar kompetensi yang telah ditetapkan.
c) Guru
Guru bukanlah narasumber
segala-galanya, tetapi dalam pembelajaran lebih berperanan sebagai fasilitator,
mediator, motivator, evaluator, desainer pembelajaran dan tutor. Masih banyak
peran yang lain, oleh karenanya dalam pembelajaran ini peran aktif siswa sangat
diharapkan, sedangkan guru membantu perilaku siswa yang belum muncul secara
mandiri dalam bentuk pengayaan, remedial pembelajaran.
Kelebihan dan Kekurangan Teori
Sosio-Kultural
Kelebihan
1. Anak
memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan
proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang
2. Pembelajaran
perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat
perkembangan aktualnya
3. Pembelajaran
lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan
intermentalnya daripada kemampuan intramental
4. Anak
diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang
telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat dilakukan untuk
tugas-tugas atau pemecahan masalah
5. Proses
belajar dan pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan
kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara
bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Kekurangan
Teori sosio-kultural yaitu terbatas
pada perilaku yang tampak, proses-proses belajar yang kurang tampak seperti
pembentukan konsep, belajar dari berbagai sumber belajar, pemecahan masalah dan
kemampuan berpikir sukar diamati secara langsung oleh karena itu diteliti oleh
para teoriwan perilaku.
Teori belajar sibenetik
Teori
belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan
dengan teori-teori yang sudah dibahas sebelumnya. Menurut teori ini, belajar
adalah pengolahan informasi. Proses belajar memang penting dalam teori ini,
namun yang lebih penting adalah system informasi yang diproses yang akan dipelajari
siswa. Asumsi lain adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang ideal
untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar
sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Implementasi
teori sibernetik dalam kegiatan pembelajaran telah dikembangkan oleh beberapa
tokoh dengan beberapa teori, diantaranya:
1. Teori pemrosesan informasi
Pada
teori ini, komponen pemrosesan informasi dibagi menjadi tiga berdasarkan
perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya. Ketiga
komponen itu adalah:
a.
Sensory Receptor (SR)
SR
merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar.
b.
Working Memory (WM)
WM
diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu.
Karakteristik WM adalah :
1)
Memiliki kapasitas yang terbatas, kurang dari 7 slot. Informasi yang didapat
hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa adanya upaya
pengulangan (rehearsal).
2)
Informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya baik
dalam bentuk verbal, visua, ataupun semantic, yang dipengaruhi oleh peran
proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar mengendalikannya.
c.
Long Term Memory (LTM)
LTM
diasumsikan :
1)
Berisi semua pengetahuan yang telah dimilki oleh individu
2)
Mempunyai kapasitas tidak terbatas
3)
Sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau
hilang. Persoalan “lupa” hanya disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan
memunculkan kembali informasi yang diperlukan.
Asumsi
yang mendasari teori pemrosesan informasi ini adalah bahwa
pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa
dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah
sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan
informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan
kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri
individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut
Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi;
(2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6)
generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
2. Teori belajar menurut Landa
Dalam
teori ini Landa membedakan ada dua macam proses berpikir, yaitu:
a.
Proses berpikir algoritmik
Yaitu
proses berpikir yang sistematis, tahap demi tahap, linier, konvergen, lurus,
menuju ke satu target tujuan tertentu.
b.
Proses berpikir heuristik
Yaitu
cara berpikir devergen yang menuju ke beberapa target tujuan sekaligus.
Menurut
Landa proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran yang
hendak dipelajari atau masalah yang hendak dipecahkan diketahui cirri-cirinya.
Materi pelajaran tertentu akan lebih tepat disajikan dalam urutan yang teratur,
sedangkan materi pelajaran lainnya akanlebih tepat bila disajikan dalam bentuk
“terbuka” dan memberi kebebasan kepada siswa untuk berimajinasi dan berpikir.
3. Teori belajar menurut Pask dan
Scott
Menurut
Pask dan Scott ada dua macam cara berpikir, yaitu:
a.
Cara berpikir serialis
Cara
berpikir ini hampir sama dengan cara berpikir algoritmik. Yaitu berpikir
menggunakan cara setahap demi setahap atau linier.
b.
Cara berpikir menyeluruh atau wholist
Cara
berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah
sistem informasi atau mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal
yang lebih khusus.
Teori
belajar pengolahan informasi termasuk teori kognitif yang mengemukakan bahwa
belajar adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung dan merupakan
perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu. Namun memori kerja
manusia mempunyai kapasitas yang terbatas. Menurut Gagne, untuk mengurangi
muatan memori kerja tersebut dapat diatur sesuai dengan:
a.
Kapabilitas belajar
b.
Peristiwa pembelajaran
c.
Pengorganisasian atau urutan pembelajaran
Tahap
sebernetik sebagai teori belajar sering kali dikritik karena lebih menekankan
pada sistem informasi yang akan dipelajari, sementara itu bagaimana proses
belajar berlangsung dalam diri individu sangat ditentukan oleh sistem informasi
yang dipelajari. Teori ini memandang manusia sebagai pengolah informasi,
pemikir, dan pencipta. Berdasarkan itu, maka diasumsikan bahwa manusia
merupakan makhluk yang mampu mengolah, menyimpan, dan mengorganisasikan
informasi.