Selasa, 27 Agustus 2019

postulat dalam fisika

berikut ini merupakan contoh beberapa postulat dalam fisika:

1. postulat Bohr
Dua Postulat Bohr :
1)      Elektron mengelilingi inti atom pada lintasan tertentu yang stasioner yang disebut orbit/kulit. Walaupun elektron bergerak cepat tetapi elektron tidak memancarkan atau menyerap energi sehingga energi elektron konstan. Hal ini berarti elektron yang berputar mengelilingi inti atom mempunyai lintasan tetap sehingga elektron tidak jatuh ke inti.
2)      Elektron dapat berpindah dari kulit yang satu ke kulit yang lain dengan memancarkan atau menyerap energi. Energi yang dipancarkan atau diserap ketika elektron berpindah-pindah kulit disebut foton.
2. postulat einstein
Teori relativitas Einstein merujuk pada kerangka acuan inersial yaitu kerangka acuan yang bergerak relatif pada kecepatan konstan (tetap) terhadap kerangka acuan lainnya. Dari hasil kajiannya, Einstein mengemukakan dua postulat, yaitu

1.Hukum-hukum fisika memiliki bentuk yang sama pada semua kerangka acuan inersial.

2. Cahaya yang merambat di ruang hampa dengan kecepatan = 3 x 108 m/s adalah sama untuk semua pengamat dan tidak bergantung pada gerak sumber cahaya maupun kecepatan pengamat

Senin, 26 Agustus 2019

azas azas dalam fisika

Beberapa azas dalam fisika antara lain sebagai berikut:

1. Azas black
Bunyi Asas BlackBerikut ini adalah bunyi dari asas black :
Pada pencampuran dua zat, banyaknya kalor yang dilepaskan zat yang suhunya lebih tinggi itu sama dengan banyaknya kalor yang diterima zat yang memiliki suhu yang lebih rendah
Rumus Asas Black
Dan secara umum rumus asas black ini adalah
Qlepas = Qterima
Note :
Qlepas itu adalah jumlah dari kalor yang dilepaskan oleh zat
Qterima adalah jumlah dari kalor yang diterima oleh zat
Dan dibawah ini adalah penjabaran rumus asas black :(M1 X C1) (T1-Ta) = (M2 X C2) (Ta-T2)Atau(M1 X T1 + M2 X T2) / (M1 + M2)Note :
M1 adalah masa dari benda yang memiliki tingkat temperatur yang lebih tinggi
C1 adalah kalor jenis benda yang memiliki tingkat temperatur yang lebih tinggi
T1 adalah temperatur benda yang memiliki tingkat temperatur yang lebih tinggi
Ta adalah temperatur akhir dari pencampuran kedua buah benda
M2 adalah massa dari benda yang memiliki tinggkat temperatur yang lebih rendah
C2 adalah kalor jenis benda yang memiliki tingkat temperatur yang lebih rendah
T2 adalah temperatur dari benda yang memiliki tingkat temperatur yang lebih rendah

2. Azas ketidakpastian
Asas ketidakpastian Heisenberg berbunyi : “Tidak mungkin menentukan posisi dan kecepatan elektron dalam satu waktu dengan ketelitian yang tinggi. Jika suatu percobaan dibuat untuk menentukan posisi elektron, maka kecepatannya tidak bisa ditentukan dengan pasti. Begitu pula sebaliknya, jika dibuat percobaan untuk menentukan kecepatan (momentum) elektron, maka posisinya menjadi berubah”. Selama ini, ketika kita disuguhkan dengan pembuktian secara matematis, yaitu dengan rumusnya yang terkenal :

Δx.Δp > h 

3. Azas doppler
azas doppler berbunyi: "Apabila pendengar dan sumber bunyi saling mendekati maka akan terdengar bunyi lebih tinggi dari pada jarak antara  pendengar dan sumber bunyi tetap"
Peristiwa-peristiwa mengenai efek Doppler dapat dituangkan ke dalam rumusan persamaan matematis dengan bentuk:

Keterangan:
fp = frekuensi yang diterima oleh pendengar (Hz)
fs = frekuensi dari sumber bunyi (Hz)
vp = kecepatan pendengar (m/s)
vs = kecepatan dari sumber bunyi (m/s)
v = cepat rambat bunyi di udara (m/s)
4. Azas kontinuitas
azas kontinuitas berbunyi: Jumlah fluida yang mengalir melalui sebuah pipa pada penampang dengan kecepatan sama dengan jumlah fluida yang keluar pada penampang dengan kecepatan dalam selang waktu yang sama
Kecepatan aliran fluida ketika melewati penampang 1 tentunya akan berbeda dengan ketika fluida tersebut melewati penampang 2. Hal ini karena luas penampang 1 lebih besar daripada luas penampang 2. Secara matematis, hubungan antara kecepatan fluida di luas penampang 1 dan di luas penampang 2 dinyatakan sebagai berikut :
Q= Q2
A1 v1 = A2 v2

Keterangan :
Q1 =Debit fluida di luas penampang 1 (m3/s)
Q2 =Debit fluida di luas penampang 2 (m3/s)
A1 =Luas penampang 1 (m2)
A2 =Luas penampang 2 (m2)
v1 =Kecepatan fluida di luas penampang 1 (m/s)
v2 =Kecepatan fluida di luas penampang 2 (m/s



Selasa, 20 Agustus 2019

cara mengukur massa bumi

bagaimana ya cara mengukur massa bumi
Setiap benda tersusun atas materi, Jumlah Materi yang terkandung dalam suatu benda di sebut massa benda
Massa adalah salah satu jenis besaran pokok yang memiliki satuan Kg (SI)
Alat ukur massa ada berbagai macam antara lain Neraca lengan, Neraca ohauss , maupu timbangan dll.

Berikut adalah tabel hasil beberapa pengukuran Massa untuk beberapa obyek :

Obyek
Massa ( Kg)
Galaksi Bima Sakti
2 x 1043
Matahari
2 x 1030
Bumi
6 x 1024
Bulan
7 x 1022
Gajah
4 x 103
Manusia
7 x 101
katak
1 x 10-1
nyamuk
1 x 10-5
Virus
1 x 10-15
Proton
1,67 x 10-27
Elektron
9,11 x 10-31

Dari tabel diatas di peroleh massa rata-rata manusia pada umumnya adalah 70 kg. 




Perhitungan untuk mengkur massa bumi menggunakan konsep hukum newton tentang gravitasi yang menyatakan bahwa “ gaya tarik antar dua benda sebanding dengan massa masing masing benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak kedua benda.



Dengan G adalah Konstanta Gravitasi umum ( 6,673 x 10-11N.m2/kg2), nilai tersebut didapatkan dari percobaan Cavendish yang dilakukan oleh Sir Henry Cavendish tahun 1798.



(Penjabaran yang lebih lengkap tentang percobaan cavendish, akan segera kami update di blog ini).

Gravitasi Bumi merupakan sifat bumi dimana benda benda ditarik ke arah pusat bumi. Gaya tarik bumi terhadap benda-benda ini dinamakan dengan gaya gravitasi Bumi. Besarnya Percepatan akibat gravitasi bumi pada pada benda bermassa m yang berada pada jarak r dari pusat bumi dapat kita hitung dengan cara sebagai berikut.

Dengan 
M : Massa Bumi
m : massa benda
r : jarak benda dari pusat bumi
G : Konstanta Gravitasi umum ( 6,673 x 10-11N.m2/kg2).

Percepatan a sering dinamakan percepatan akibat gravitasi bumi; sering diberi symbol g.

Nah, untuk mempermudah perhitungan percobaan massa bumi, benda terletak dipermukaan bumi, maka,
R adalah jari-jari bumi, maka didapatkan 

g0 adalah percepatan gravitasi bumi di permukaan bumi.

Dari persamaan diatas lah kita dapat menghitung Massa bumi.

g0 = 9,8 m/s2 ( asal nya darimana ) mengenai pembuktian nilainya, sudah sering dibahas saat SMA maupun Kuliah.
G :  6,673 x 10-11N.m2/kg2, nilai tersebut didapatkan dari hasil percobaan Cavendish yang sudah dibahasi diatas
R = 6,37 x 106 m ( nilai tersebut didapat dari mengamati  matahari dan menggunakan perhitungan matematika sederhana, bahkan cara ini  sudah dipraktekan Eratosthenes 3 abad sebelum masehi).
Dari perhitungan tersebut diperoleh nilai/ukuran massa bumi 5,96 x 1024 kg atau bisa dibulatkan 6 x 1024( sesuai dengan tabel)
referensi : fisika itu mudah,yohanes surya 2003

Senin, 19 Agustus 2019

beberapa teori belajar dan pembelajaran

BEBERAPA TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Teori adalah seperangkat azaz yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata dinyatakan oleh McKeachie dalam grendel 1991 : 5 (Hamzah Uno, 2006:4).  Sedangkan Hamzah (2003:26) menyatakan bahwa teori merupakan seperangkat preposisi yang didalamnya memuat tentang ide, konsep, prosedur dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variable yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis dan diuji serta dibuktikan kebenarannya.
Teori belajar behavioristic
            Teori belajar behavoristik adalah teori pembelajaran yang mengamati dan mempelajari perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari pengalaman di masa lalu. Teori ini menekankan bahwa tingkah laku yang ditunjukkan seseorang merupakan akibat dari interaksi antara stimulus dengan respon. Teori ini berkembang dan cenderung mengikuti aliran psikologi belajar lantas menjadi dasar pengembangan teori pendidikan dan pembelajaraan saat ini
Thorndike memiliki pengertian dari teori belajar behavioristik yang dipahaminya sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah rangsangan, contohnya seperti pikiran dan perasaan. Sedangkan respon adalah reaksi yang ditunjukkan akibat stimulus. Perubahan tingkah laku akibat pembelajaran bagi Thorndike bisa berupa hal konkrit (bisa diamati dengan kasat mata) maupun tak konkrit.
Kelebihan teori behavioristic:
1.sesuai dengan materi pembelajaran
2. materi pembelajaran di rancang secara khususs
3.membangaun konsentrasi individu
4. sesuai dengan pemahaman belajar anak
5.perubahan belajar menjadi tolak ukur keberhasilan
Kekurangan teori behavioristic:
1.hanya berpusat pada tenaga pendidik
2.lebih mengutamakan hafalan ketimbang latihan
3.kaku dan membosankan
4. individu yang dibentuk menjadi pasif dan tidak inovatif
Teori belajar kognitivisme
Pembelajaran bagi aliran kognitif dipandang bukan hanya sekedar mendapat stimulus dan menghasilkan respons yang mekanistik, tetapi pembelajaran juga melibatkan kondisi mental didalam individu pembelajar yang berhubungan dengan persepsi, perhatian, motivasi dan lain-lain. Sehingga belajar dipahami sebagai suatu proses mental yang aktif dalam memperoleh, mengingat dan menunjukkan kedalam perilaku. Perilaku yang nampak tidak dapat diamati dan diukur apabila tidak melibatkan proses mental seperti kesadaran, motivasi, keyakinan dan proses mental lainnya.
Teori belajar kognitif adalah teori yang menjelaskan proses pemikiran dan perbedaan kondisi mental serta pengaruh faktor internal dan eksternal dalam menghasilkan belajarnya seorang individu. Apabila proses kognitif bekerja normal, maka perolehan informasi dan penyimpanan pengetahuan akan bekerja dengan baik pula. Namun apabila proses kognitif bekerja tidak sebagaimana mestinya, maka terjadilah masalah dalam belajar.

Penerapan teori belajar kognitifisme:
  1. Belajar tidak harus berpusat pada guru tetapi peserta didik harus lebih aktif. Oleh karenanya peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Konsekwensinya materi yang dipelajari harus menarik minat belajar peserta didik dan menantangnya sehingga mereka asyik dan terlibat dalam proses pembelajaran.
  2. Bahan pembelajaran dan metode pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Peserta didik akan sulit memahami bahan pelajaran Jika frekuensi belajar hitung loncat-loncat. Bagi anak SD pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret.
  3. Dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. Materi dirancang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif itu dan harus merangsang kemampuan berpikir mereka.
  4. Belajar harus berpusat pada peserta didik karena peserta didik melihat sesuatu berdasarkan dirinya sendiri. Untuk terjadinya proses belajar harus tidak ada proses paksaan agar sifat egosentrisnya tidak terbunuh.


Teori belajar konstruktivisme
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Konsep umum pendekatan konstruktivisme:
  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
  3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
  4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
  5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
  6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.

Teori belajar humanistic
            Konsep teori belajar Humanistik yaitu proses memanusiakan manusia, dimana seorang individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri artinya manusia dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan. Proses belajar Humanistik memusatkan perhatian kepada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan individu. Teori Humanistik menekankan kognitif dan afektif memengaruhi proses. 
Karakteristik Teori Humanistik (Suprayogi, 2005)
- Mementingkan manusia sebagai pribadi.
- Mementingkan kebulatan pribadi.
- Mementingkan peranan kognitif dan afektif.
- Mengutamakan terjadinya aktualisasi diri dan self concept.
- Mementingkan persepsual subjektif yang dimiliki tiap individu.
- Mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri.
- Mengutamakan insight (pengetahuan/pemahaman).

Kelebihan dan kekurangan Teori Humanistik
Kelebihan :
- Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
- Siswa merasa senang, berinisiatif dalam belajar.
- Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa.
- Siswa mempunyai banyak pengalaman yang berarti.
- Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
- Indikator dari keberhasilan aplikasi ini ialah siswa merasa senang dan bergairah.
- Terjadinya perubahan pola pikir.
- Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara tanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang-orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku.
- Siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.
Kekurangan :
- Bersifat individual.
- Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.
- Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis.
- Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
- Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
- Siswa tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar.
- Peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.

- Keberhasilan proses belajar lebih banyak ditentukan oleh siswa itu sendiri.

Teori belajar gestalt
Gestalt adalah merupakan salah satu teori yang menjelaskan bahwa proses persepsi melalui pengorganisasian suatu komponen-komponen yang memiliki hubungan, pola, dan juga kemiripan yang bersatu menjadi satu kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi dalam pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Teori Gestalt ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and WolfgangKöhler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai satu kesatuan yang utuh.
Akhmad Sudrajat menguraikan beberapa  Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaranantara lain :
1.Pengalaman tilikan (insight) bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan pada unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa yang terjadi.
2.Pembelajaran yang bermakna (meaningfull learning); arti dari unsur-unsur yang terkait akan menunjang pada pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Semakin jelas makna hubungan suatu unsur maka akan semakin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses dalam kehidupannya.
3.Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari bahwa tujuannya adalah sebagai arah aktivitas pada pengajaran dan untuk membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4.Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh sebab itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi yang ada dalam lingkungan kehidupan peserta didik.
5.Transfer dalam Belajar (transfer knowledge); yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain dalam pembelajaran. Menurut pandangan Gestalt, bahwa transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu yang kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap maksud prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi yang kemudian akan digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

Teori belajar kecerdasan ganda
            Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences) merupakan teori yang dicetuskan oleh Howard Gardner. Pada dasarnya, teori ini menggabungkan antara potensi-potensi otak kanan dan otak kiri sehingga potensi-potensi tersebut dapat berjalan optimal.
Menurut teori multiple intelligences, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
(1) Setiap orang memiliki kedelapan kecerdasan, hanya saja profil tiap orang mungkin berbeda. Ada yang tinggi pada semua jenis kecerdasan ada pula yang hanya rata-rata dan tinggi pada dua atau tiga jenis kecerdasan.
(2) Orang dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai; Kecerdasan dapat distimulasi, dikembangkan sampai batas tertinggi melalui pengayaan, dukungan yang baik, dan pengajaran.
(3) Kecerdasan-kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks. Dalam aktivitas sehari-hari, kecerdasan saling berkaitan dalam satu rangkain : menendang bola (kinestetik), orientasi diri di lapangan (spasial), mengajukan protes ke wasit (linguistik dan interpersonal)
(4) Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori
Seseorang yang cerdas linguistik mungkin tidak pandai menulis, tetapi pandai bercerita dan berbicara secara memukau.

Kelebihan Teori Kecerdasan Ganda
-Teori ini mampu mengeksplorasi semua kecerdasan manusia baik potensi yang ada dalam otak kiri dan kanan.
-Teori kecerdasan ganda mempunyai delapan komponen yang masing-masing dapat dioptimalkan melalui latihan.

Kelemahan Teori Kecerdasan Ganda
Teori Kecerdasan Ganda kurang memperhatikan moral. Padahal, moral merupakan aspek penting selain kecerdasan otak. Banyak kasus membuktikan bahwa kecerdasan otak yang tanpa diimbangi dengan kecerdasan moral hasilnya akan kurang baik.

Teori belajar social
             Teori belajar sosial dikenalkan oleh Albert Bandura, yang mana konsep dari teori ini menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Menurut Bandura, orang belajar melalui pengalaman langsung atau pengamatan (mencontoh model). Orang belajar dari apa yang ia baca, dengar, dan lihat di media, dan juga dari orang lain dan lingkungannya.
          Albert Bandura mengemukakan bahwa seorang individu belajar banyak tentang perilaku melalui peniruan / modeling, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang diterimanya. Proses belajar semacam ini disebut "observational learning" atau pembelajaran melalui pengamatan. Albert Bandura (1971), mengemukakan bahwa teori pembelajaran sosial membahas tentang
 (1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning,
(2) cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi,
(3) begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan observational opportunity.

Teori belajar van hiele
Teori Belajar Van Hiele dikembangkan dalam geometri. Van Hiele adalah seorang pengajar matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan, melalui observasi dan tanya jawab, kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam disertasinya pada tahun 1954. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri.  Menurut Van  Hiele mterdapat 5 tahap pemahaman geometri  yaitu:  pengenalan,  analisis,  pengurutan,  deduksi, dan akurasi. Berikut ini tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri yang bisa dikembangkan dalam pembelajaran lainnya. 
a) Tahap Visualisasi (Pengenalan)
b) Tahap Analisis (Deskriptif)
c) Tahap Deduksi Formal (Pengurutan atau Relasional)
d) Tahap Deduksi
e) Tahap Akurasi (tingkat metamatematis atau keakuratan)

Menurut   Van  Hiele  seorang  anak yang  berada pada  tingkat  yang  lebih rendah tidak  mungkin dapat   mengerti  atau memahami  materi yang berada pada tingkat   yang  lebih  tinggi  dari  anak tersebut. Kalaupun anak itu dipaksakan untuk memahaminya,  anak    itu    baru bisa memahami melalui    hafalan  saja  bukan melalui pengertian.  Adapun  fase-fase pembelajaran yang  menunjukkan tujuan belajar  siswa dan peran guru   dalam   pembelajaran  dalam  mencapai tujuan itu. Fase-fase pembelajaran tersebut  adalah:
1)  fase informasi,
2) fase orientasi, 
3) fase  eksplisitasi, 
4)   fase orientasi  bebas,  dan
5)  fase  integrasi.
Teori belajar revolusi sosiokultural
Sosiokultural berasal dari dua kata yaitu sosio dan kultural, sosio berarti berhubungan dengan masyarakat dan kultural berarti berhubungan dengan kebudayaan. Jadi, sosiokultural adalah berkenaan dengan segi sosial dan budaya masyarakat.
Aplikasi Teori Sosio-Kultural
Aplikasi teori sosio-kultural dalam pendidikan. Penerapan teori sosio-kultural dalam pendidikan dapat terjadi pada 3 jenis pendidikan yaitu:
1. Pendidikan informal (keluarga)
Pendidikan anak dimulai dari lingkungan keluarga, dimana anak pertama kali melihat, memahami, mendapatkan pengetahuan, sikap dari lingkungan keluarganya. Oleh karena itu perkembangan prilaku masing-masing anak akan berbeda manakala berasal dari keluarga yang berbeda, karena faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dalam keluarga beragam, misalnya: tingkat pendidikan orang tua, faktor ekonomi keluarga, keharmonisan dalam keluarga dan sebagainya.
2. Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal yang berbasis budaya banyak bermunculan untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku pada anak, misalnya kursus membatik. Pendidikan ini diberikan untuk membekali anak hal-hal tradisi yang berkembang di lingkungan sosial masyarakatnya.
3. Pendidikan formal
Aplikasi teori sosio-kultural pada pendidikan formal dapat dilihat dari beberapa segi antara lain:
a)     Kurikulum.
Khususnya untuk pendidikan di Indonesia pemberlakuan kurikulum pendidikan sesuai Peraturan Menteri nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan KTSP, Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi, dan Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar, jelas bahwa pendidikan di Indonesia memberikan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap kepada anak untuk mempelajari sosio-kultural masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional melalui beberapa mata pelajaran yang telah ditetapkan, di antaranya: pendidikan kewarganegaraan, pengetahuan sosial, muatan lokal, kesenian, dan olah raga.
b)     Siswa
Dalam pembelajaran KTSP anak mengalami pembelajaran secara langsung ataupun melalui rekaman. Oleh sebab itu pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap bukan sesuatu yang verbal tetapi anak mengalami pembelajaran secara langsung.Selain itu pembelajaran memberikan kebebasan anak untuk berkembang sesuai bakat, minat, dan lingkungannya pencapaiannya sesuai standar kompetensi yang telah ditetapkan.
c)     Guru
Guru bukanlah narasumber segala-galanya, tetapi dalam pembelajaran lebih berperanan sebagai fasilitator, mediator, motivator, evaluator, desainer pembelajaran dan tutor. Masih banyak peran yang lain, oleh karenanya dalam pembelajaran ini peran aktif siswa sangat diharapkan, sedangkan guru membantu perilaku siswa yang belum muncul secara mandiri dalam bentuk pengayaan, remedial pembelajaran.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Sosio-Kultural
Kelebihan
1.    Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang
2.    Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya
3.    Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramental
4.    Anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat dilakukan untuk tugas-tugas atau pemecahan masalah
5.    Proses belajar dan pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Kekurangan
Teori sosio-kultural yaitu terbatas pada perilaku yang tampak, proses-proses belajar yang kurang tampak seperti pembentukan konsep, belajar dari berbagai sumber belajar, pemecahan masalah dan kemampuan berpikir sukar diamati secara langsung oleh karena itu diteliti oleh para teoriwan perilaku.

Teori belajar sibenetik
Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan dengan teori-teori yang sudah dibahas sebelumnya. Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi. Proses belajar memang penting dalam teori ini, namun yang lebih penting adalah system informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa. Asumsi lain adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang ideal untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Implementasi teori sibernetik dalam kegiatan pembelajaran telah dikembangkan oleh beberapa tokoh dengan beberapa teori, diantaranya:
1. Teori pemrosesan informasi
Pada teori ini, komponen pemrosesan informasi dibagi menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya. Ketiga komponen itu adalah:
a. Sensory Receptor (SR)
SR merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar.
b. Working Memory (WM)
WM diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu. Karakteristik WM adalah :
1) Memiliki kapasitas yang terbatas, kurang dari 7 slot. Informasi yang didapat hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa adanya upaya pengulangan (rehearsal).
2) Informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya baik dalam bentuk verbal, visua, ataupun semantic, yang dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar mengendalikannya.
c. Long Term Memory (LTM)
LTM diasumsikan :
1) Berisi semua pengetahuan yang telah dimilki oleh individu
2) Mempunyai kapasitas tidak terbatas
3) Sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Persoalan “lupa” hanya disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali informasi yang diperlukan.
Asumsi yang mendasari teori pemrosesan informasi ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

2. Teori belajar menurut Landa
Dalam teori ini Landa membedakan ada dua macam proses berpikir, yaitu:
a. Proses berpikir algoritmik
Yaitu proses berpikir yang sistematis, tahap demi tahap, linier, konvergen, lurus, menuju ke satu target tujuan tertentu.
b. Proses berpikir heuristik
Yaitu cara berpikir devergen yang menuju ke beberapa target tujuan sekaligus.
Menurut Landa proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran yang hendak dipelajari atau masalah yang hendak dipecahkan diketahui cirri-cirinya. Materi pelajaran tertentu akan lebih tepat disajikan dalam urutan yang teratur, sedangkan materi pelajaran lainnya akanlebih tepat bila disajikan dalam bentuk “terbuka” dan memberi kebebasan kepada siswa untuk berimajinasi dan berpikir.
3. Teori belajar menurut Pask dan Scott
Menurut Pask dan Scott ada dua macam cara berpikir, yaitu:
a. Cara berpikir serialis
Cara berpikir ini hampir sama dengan cara berpikir algoritmik. Yaitu berpikir menggunakan cara setahap demi setahap atau linier.
b. Cara berpikir menyeluruh atau wholist
Cara berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi atau mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal yang lebih khusus.
Teori belajar pengolahan informasi termasuk teori kognitif yang mengemukakan bahwa belajar adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung dan merupakan perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu. Namun memori kerja manusia mempunyai kapasitas yang terbatas. Menurut Gagne, untuk mengurangi muatan memori kerja tersebut dapat diatur sesuai dengan:
a. Kapabilitas belajar
b. Peristiwa pembelajaran
c. Pengorganisasian atau urutan pembelajaran
Tahap sebernetik sebagai teori belajar sering kali dikritik karena lebih menekankan pada sistem informasi yang akan dipelajari, sementara itu bagaimana proses belajar berlangsung dalam diri individu sangat ditentukan oleh sistem informasi yang dipelajari. Teori ini memandang manusia sebagai pengolah informasi, pemikir, dan pencipta. Berdasarkan itu, maka diasumsikan bahwa manusia merupakan makhluk yang mampu mengolah, menyimpan, dan mengorganisasikan informasi.




LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR I TRANSISTOR SEBAGAI PENGUAT TEGANGAN -Aminatussaadah

  I.                    JUDUL            : TRANSISTOR SEBAGAI PENGUAT TEGANGAN II.                 TUJUAN 1.       Setelah melakukan pra...