BEBERAPA TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Teori adalah seperangkat azaz yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata dinyatakan oleh McKeachie dalam grendel 1991 : 5 (Hamzah Uno, 2006:4). Sedangkan Hamzah (2003:26) menyatakan bahwa teori merupakan seperangkat preposisi yang didalamnya memuat tentang ide, konsep, prosedur dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variable yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis dan diuji serta dibuktikan kebenarannya.
Teori belajar
behavioristic
Teori
belajar behavoristik adalah teori pembelajaran yang mengamati dan
mempelajari perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari pengalaman di
masa lalu. Teori ini menekankan bahwa tingkah laku yang ditunjukkan seseorang
merupakan akibat dari interaksi antara stimulus dengan respon. Teori ini
berkembang dan cenderung mengikuti aliran psikologi
belajar lantas menjadi dasar pengembangan teori pendidikan dan
pembelajaraan saat ini
Thorndike memiliki pengertian dari teori belajar
behavioristik yang dipahaminya sebagai proses interaksi antara stimulus
dan respon. Stimulus adalah rangsangan, contohnya seperti pikiran dan
perasaan. Sedangkan respon adalah reaksi yang ditunjukkan akibat stimulus.
Perubahan tingkah laku akibat pembelajaran bagi Thorndike bisa berupa hal
konkrit (bisa diamati dengan kasat mata) maupun tak konkrit.
Kelebihan teori behavioristic:
1.sesuai dengan materi pembelajaran
2. materi pembelajaran di rancang secara khususs
3.membangaun konsentrasi individu
4. sesuai dengan pemahaman belajar anak
5.perubahan belajar menjadi tolak ukur keberhasilan
Kekurangan teori behavioristic:
1.hanya berpusat pada tenaga pendidik
2.lebih mengutamakan hafalan ketimbang latihan
3.kaku dan membosankan
4. individu yang dibentuk menjadi pasif dan tidak inovatif
Teori belajar
kognitivisme
Pembelajaran bagi aliran
kognitif dipandang bukan hanya sekedar mendapat stimulus dan menghasilkan
respons yang mekanistik, tetapi pembelajaran juga melibatkan kondisi mental
didalam individu pembelajar yang berhubungan dengan persepsi, perhatian,
motivasi dan lain-lain. Sehingga belajar dipahami sebagai suatu proses mental
yang aktif dalam memperoleh, mengingat dan menunjukkan kedalam perilaku.
Perilaku yang nampak tidak dapat diamati dan diukur apabila tidak melibatkan
proses mental seperti kesadaran, motivasi, keyakinan dan proses mental lainnya.
Teori belajar kognitif adalah teori yang
menjelaskan proses pemikiran dan perbedaan kondisi mental serta pengaruh faktor
internal dan eksternal dalam menghasilkan belajarnya seorang individu. Apabila
proses kognitif bekerja normal, maka perolehan informasi dan penyimpanan
pengetahuan akan bekerja dengan baik pula. Namun apabila proses kognitif
bekerja tidak sebagaimana mestinya, maka terjadilah masalah dalam belajar.
Penerapan teori belajar kognitifisme:
- Belajar tidak harus berpusat
pada guru tetapi peserta didik harus lebih aktif. Oleh karenanya peserta
didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya.
Konsekwensinya materi yang dipelajari harus menarik minat belajar peserta
didik dan menantangnya sehingga mereka asyik dan terlibat dalam proses
pembelajaran.
- Bahan pembelajaran dan metode
pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Peserta didik akan sulit
memahami bahan pelajaran Jika frekuensi belajar hitung loncat-loncat. Bagi
anak SD pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda
terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berpikir mereka
baru mencapai tahap operasi konkret.
- Dalam proses pembelajaran guru
harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. Materi
dirancang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif itu dan harus
merangsang kemampuan berpikir mereka.
- Belajar harus berpusat pada
peserta didik karena peserta didik melihat sesuatu berdasarkan dirinya
sendiri. Untuk terjadinya proses belajar harus tidak ada proses paksaan
agar sifat egosentrisnya tidak terbunuh.
Teori
belajar konstruktivisme
Teori Konstruktivisme
didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan
mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran
behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat
mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar
sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi
makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme
sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan
kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman.
Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Konsep umum pendekatan
konstruktivisme:
- Pelajar
aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
- Dalam
konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan
mereka.
- Pentingnya
membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses
saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran
terbaru.
- Unsur
terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya
secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya
yang sudah ada.
- Ketidakseimbangan
merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku
apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau
sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
- Bahan
pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman
pelajar untuk menarik miknat pelajar.
Teori
belajar humanistic
Konsep teori belajar Humanistik yaitu proses
memanusiakan manusia, dimana seorang individu diharapkan dapat
mengaktualisasikan diri artinya manusia dapat menggali kemampuannya sendiri
untuk diterapkan dalam lingkungan. Proses belajar Humanistik memusatkan
perhatian kepada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan
individu. Teori Humanistik menekankan kognitif dan afektif memengaruhi
proses.
Karakteristik Teori Humanistik (Suprayogi,
2005)
- Mementingkan manusia sebagai pribadi.
- Mementingkan kebulatan pribadi.
- Mementingkan peranan kognitif dan afektif.
- Mengutamakan terjadinya aktualisasi diri dan
self concept.
- Mementingkan persepsual subjektif yang
dimiliki tiap individu.
- Mementingkan kemampuan menentukan bentuk
tingkah laku sendiri.
- Mengutamakan insight
(pengetahuan/pemahaman).
Kelebihan dan kekurangan Teori Humanistik
Kelebihan :
- Bersifat pembentukan kepribadian, hati
nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
- Siswa merasa senang, berinisiatif dalam
belajar.
- Guru menerima siswa apa adanya,memahami
jalan pikiran siswa.
- Siswa mempunyai banyak pengalaman yang
berarti.
- Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri;
membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
- Indikator dari keberhasilan aplikasi ini
ialah siswa merasa senang dan bergairah.
- Terjadinya perubahan pola pikir.
- Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas,
berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri
secara tanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang-orang lain atau melanggar
aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku.
- Siswa dituntut untuk berusaha agar lambat
laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.
Kekurangan :
- Bersifat individual.
- Proses belajar tidak akan berhasil jika
tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.
- Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih
praktis.
- Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri
dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
- Siswa yang tidak mau memahami potensi
dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
- Siswa tidak aktif dan malas belajar akan
merugikan diri sendiri dalam proses belajar.
- Peran guru dalam proses pembentukan dan
pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.
- Keberhasilan proses belajar lebih banyak
ditentukan oleh siswa itu sendiri.
Teori belajar gestalt
Gestalt adalah merupakan salah satu teori yang
menjelaskan bahwa proses persepsi melalui pengorganisasian suatu
komponen-komponen yang memiliki hubungan, pola, dan juga kemiripan yang bersatu
menjadi satu kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme.
Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi dalam pembagian sensasi menjadi
bagian-bagian kecil. Teori Gestalt ini dibangun oleh tiga
orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and WolfgangKöhler. Mereka menyimpulkan
bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya
sebagai satu kesatuan yang utuh.
Akhmad Sudrajat menguraikan beberapa Aplikasi
teori Gestalt dalam proses pembelajaranantara lain :
1.Pengalaman tilikan (insight) bahwa
tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses
pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu
kemampuan mengenal keterkaitan pada unsur-unsur dalam suatu obyek atau
peristiwa yang terjadi.
2.Pembelajaran yang bermakna (meaningfull learning);
arti dari unsur-unsur yang terkait akan menunjang pada pembentukan tilikan
dalam proses pembelajaran. Semakin jelas makna hubungan suatu unsur maka akan
semakin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan
pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan
alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya
memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses dalam kehidupannya.
3.Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa
perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan
stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai.
Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan
yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari bahwa
tujuannya adalah sebagai arah aktivitas pada pengajaran dan untuk membantu
peserta didik dalam memahami tujuannya.
4.Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku
individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh sebab
itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan
kondisi yang ada dalam lingkungan kehidupan peserta didik.
5.Transfer dalam Belajar (transfer knowledge);
yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke
situasi lain dalam pembelajaran. Menurut pandangan Gestalt, bahwa transfer
belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi
dalam situasi tertentu yang kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain
dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan
prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun
ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta
didik telah menangkap maksud prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan
menemukan generalisasi yang kemudian akan digunakan dalam memecahkan masalah
dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta
didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
Teori
belajar kecerdasan ganda
Teori
Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences) merupakan teori yang dicetuskan oleh
Howard Gardner. Pada dasarnya, teori ini menggabungkan antara potensi-potensi
otak kanan dan otak kiri sehingga potensi-potensi tersebut dapat berjalan
optimal.
Menurut teori multiple
intelligences, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
(1) Setiap orang memiliki kedelapan
kecerdasan, hanya saja profil tiap orang mungkin berbeda. Ada yang tinggi pada
semua jenis kecerdasan ada pula yang hanya rata-rata dan tinggi pada dua atau
tiga jenis kecerdasan.
(2) Orang dapat mengembangkan setiap
kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai; Kecerdasan dapat
distimulasi, dikembangkan sampai batas tertinggi melalui pengayaan, dukungan
yang baik, dan pengajaran.
(3) Kecerdasan-kecerdasan umumnya
bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks. Dalam aktivitas sehari-hari,
kecerdasan saling berkaitan dalam satu rangkain : menendang bola (kinestetik),
orientasi diri di lapangan (spasial), mengajukan protes ke wasit (linguistik
dan interpersonal)
(4) Ada banyak cara untuk menjadi
cerdas dalam setiap kategori
Seseorang yang cerdas linguistik
mungkin tidak pandai menulis, tetapi pandai bercerita dan berbicara secara
memukau.
Kelebihan Teori Kecerdasan Ganda
-Teori ini mampu mengeksplorasi
semua kecerdasan manusia baik potensi yang ada dalam otak kiri dan kanan.
-Teori kecerdasan ganda mempunyai
delapan komponen yang masing-masing dapat dioptimalkan melalui latihan.
Kelemahan Teori Kecerdasan Ganda
Teori Kecerdasan Ganda kurang
memperhatikan moral. Padahal, moral merupakan aspek penting selain kecerdasan
otak. Banyak kasus membuktikan bahwa kecerdasan otak yang tanpa diimbangi
dengan kecerdasan moral hasilnya akan kurang baik.
Teori
belajar social
Teori
belajar sosial dikenalkan oleh Albert Bandura, yang mana konsep dari teori ini
menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Menurut
Bandura, orang belajar melalui pengalaman langsung atau pengamatan (mencontoh
model). Orang belajar dari apa yang ia baca, dengar, dan lihat di media, dan
juga dari orang lain dan lingkungannya.
Albert
Bandura mengemukakan bahwa seorang individu belajar banyak tentang perilaku
melalui peniruan / modeling, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement)
sekalipun yang diterimanya. Proses belajar semacam ini disebut
"observational learning" atau pembelajaran melalui pengamatan. Albert
Bandura (1971), mengemukakan bahwa teori pembelajaran sosial membahas tentang
(1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh
lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning,
(2) cara pandang dan cara pikir yang
kita miliki terhadap informasi,
(3) begitu pula sebaliknya,
bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat
(reinforcement) dan observational opportunity.
Teori belajar van hiele
Teori
Belajar Van Hiele dikembangkan
dalam geometri. Van Hiele adalah seorang pengajar
matematika Belanda yang telah mengadakan penelitian di lapangan, melalui
observasi dan tanya jawab, kemudian hasil penelitiannya ditulis dalam
disertasinya pada tahun 1954. Penelitian yang dilakukan Van Hiele melahirkan
beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam
memahami geometri. Menurut Van Hiele mterdapat 5 tahap pemahaman geometri
yaitu: pengenalan, analisis, pengurutan, deduksi, dan
akurasi. Berikut ini tahap-tahap
perkembangan kognitif anak dalam memahami geometri yang bisa dikembangkan dalam
pembelajaran lainnya.
a) Tahap Visualisasi (Pengenalan)
b) Tahap Analisis (Deskriptif)
c) Tahap Deduksi Formal (Pengurutan
atau Relasional)
d) Tahap Deduksi
e) Tahap Akurasi (tingkat
metamatematis atau keakuratan)
Menurut Van Hiele seorang anak
yang berada pada tingkat yang lebih rendah tidak
mungkin dapat mengerti atau memahami materi yang berada
pada tingkat yang lebih tinggi dari anak
tersebut. Kalaupun anak itu dipaksakan untuk memahaminya,
anak itu baru bisa memahami
melalui hafalan saja bukan melalui
pengertian. Adapun fase-fase pembelajaran yang menunjukkan
tujuan belajar siswa dan peran guru dalam
pembelajaran dalam mencapai tujuan itu. Fase-fase pembelajaran
tersebut adalah:
1) fase informasi,
2) fase orientasi,
3) fase eksplisitasi,
4) fase orientasi bebas, dan
5) fase integrasi.
Teori belajar revolusi sosiokultural
Sosiokultural berasal dari dua kata yaitu sosio dan kultural,
sosio berarti berhubungan dengan masyarakat dan kultural berarti berhubungan
dengan kebudayaan. Jadi, sosiokultural adalah berkenaan dengan segi sosial
dan budaya masyarakat.
Aplikasi Teori Sosio-Kultural
Aplikasi teori sosio-kultural dalam
pendidikan. Penerapan teori sosio-kultural dalam pendidikan dapat terjadi pada
3 jenis pendidikan yaitu:
1. Pendidikan informal
(keluarga)
Pendidikan anak dimulai dari
lingkungan keluarga, dimana anak pertama kali melihat, memahami, mendapatkan
pengetahuan, sikap dari lingkungan keluarganya. Oleh karena itu perkembangan
prilaku masing-masing anak akan berbeda manakala berasal dari keluarga yang
berbeda, karena faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dalam keluarga
beragam, misalnya: tingkat pendidikan orang tua, faktor ekonomi keluarga,
keharmonisan dalam keluarga dan sebagainya.
2. Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal yang berbasis
budaya banyak bermunculan untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan, dan
perilaku pada anak, misalnya kursus membatik. Pendidikan ini diberikan untuk
membekali anak hal-hal tradisi yang berkembang di lingkungan sosial
masyarakatnya.
3. Pendidikan formal
Aplikasi teori sosio-kultural pada
pendidikan formal dapat dilihat dari beberapa segi antara lain:
a) Kurikulum.
Khususnya untuk pendidikan di
Indonesia pemberlakuan kurikulum pendidikan sesuai Peraturan Menteri nomor 24
tahun 2006 tentang pelaksanaan KTSP, Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2006
tentang standar kompetensi, dan Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 tentang
standar kompetensi dan kompetensi dasar, jelas bahwa pendidikan di Indonesia
memberikan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap kepada anak untuk
mempelajari sosio-kultural masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional
melalui beberapa mata pelajaran yang telah ditetapkan, di antaranya: pendidikan
kewarganegaraan, pengetahuan sosial, muatan lokal, kesenian, dan olah raga.
b) Siswa
Dalam pembelajaran KTSP anak
mengalami pembelajaran secara langsung ataupun melalui rekaman. Oleh sebab itu
pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap bukan sesuatu yang verbal tetapi anak
mengalami pembelajaran secara langsung.Selain itu pembelajaran memberikan
kebebasan anak untuk berkembang sesuai bakat, minat, dan lingkungannya
pencapaiannya sesuai standar kompetensi yang telah ditetapkan.
c) Guru
Guru bukanlah narasumber
segala-galanya, tetapi dalam pembelajaran lebih berperanan sebagai fasilitator,
mediator, motivator, evaluator, desainer pembelajaran dan tutor. Masih banyak
peran yang lain, oleh karenanya dalam pembelajaran ini peran aktif siswa sangat
diharapkan, sedangkan guru membantu perilaku siswa yang belum muncul secara
mandiri dalam bentuk pengayaan, remedial pembelajaran.
Kelebihan dan Kekurangan Teori
Sosio-Kultural
Kelebihan
1. Anak
memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan
proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang
2. Pembelajaran
perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat
perkembangan aktualnya
3. Pembelajaran
lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan
intermentalnya daripada kemampuan intramental
4. Anak
diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang
telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat dilakukan untuk
tugas-tugas atau pemecahan masalah
5. Proses
belajar dan pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan
kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara
bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Kekurangan
Teori sosio-kultural yaitu terbatas
pada perilaku yang tampak, proses-proses belajar yang kurang tampak seperti
pembentukan konsep, belajar dari berbagai sumber belajar, pemecahan masalah dan
kemampuan berpikir sukar diamati secara langsung oleh karena itu diteliti oleh
para teoriwan perilaku.
Teori belajar sibenetik
Teori
belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan
dengan teori-teori yang sudah dibahas sebelumnya. Menurut teori ini, belajar
adalah pengolahan informasi. Proses belajar memang penting dalam teori ini,
namun yang lebih penting adalah system informasi yang diproses yang akan dipelajari
siswa. Asumsi lain adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang ideal
untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar
sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Implementasi
teori sibernetik dalam kegiatan pembelajaran telah dikembangkan oleh beberapa
tokoh dengan beberapa teori, diantaranya:
1. Teori pemrosesan informasi
Pada
teori ini, komponen pemrosesan informasi dibagi menjadi tiga berdasarkan
perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya. Ketiga
komponen itu adalah:
a.
Sensory Receptor (SR)
SR
merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar.
b.
Working Memory (WM)
WM
diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu.
Karakteristik WM adalah :
1)
Memiliki kapasitas yang terbatas, kurang dari 7 slot. Informasi yang didapat
hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa adanya upaya
pengulangan (rehearsal).
2)
Informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya baik
dalam bentuk verbal, visua, ataupun semantic, yang dipengaruhi oleh peran
proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar mengendalikannya.
c.
Long Term Memory (LTM)
LTM
diasumsikan :
1)
Berisi semua pengetahuan yang telah dimilki oleh individu
2)
Mempunyai kapasitas tidak terbatas
3)
Sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau
hilang. Persoalan “lupa” hanya disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan
memunculkan kembali informasi yang diperlukan.
Asumsi
yang mendasari teori pemrosesan informasi ini adalah bahwa
pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa
dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah
sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan
informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan
kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri
individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut
Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi;
(2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6)
generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
2. Teori belajar menurut Landa
Dalam
teori ini Landa membedakan ada dua macam proses berpikir, yaitu:
a.
Proses berpikir algoritmik
Yaitu
proses berpikir yang sistematis, tahap demi tahap, linier, konvergen, lurus,
menuju ke satu target tujuan tertentu.
b.
Proses berpikir heuristik
Yaitu
cara berpikir devergen yang menuju ke beberapa target tujuan sekaligus.
Menurut
Landa proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran yang
hendak dipelajari atau masalah yang hendak dipecahkan diketahui cirri-cirinya.
Materi pelajaran tertentu akan lebih tepat disajikan dalam urutan yang teratur,
sedangkan materi pelajaran lainnya akanlebih tepat bila disajikan dalam bentuk
“terbuka” dan memberi kebebasan kepada siswa untuk berimajinasi dan berpikir.
3. Teori belajar menurut Pask dan
Scott
Menurut
Pask dan Scott ada dua macam cara berpikir, yaitu:
a.
Cara berpikir serialis
Cara
berpikir ini hampir sama dengan cara berpikir algoritmik. Yaitu berpikir
menggunakan cara setahap demi setahap atau linier.
b.
Cara berpikir menyeluruh atau wholist
Cara
berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah
sistem informasi atau mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal
yang lebih khusus.
Teori
belajar pengolahan informasi termasuk teori kognitif yang mengemukakan bahwa
belajar adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung dan merupakan
perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu. Namun memori kerja
manusia mempunyai kapasitas yang terbatas. Menurut Gagne, untuk mengurangi
muatan memori kerja tersebut dapat diatur sesuai dengan:
a.
Kapabilitas belajar
b.
Peristiwa pembelajaran
c.
Pengorganisasian atau urutan pembelajaran
Tahap
sebernetik sebagai teori belajar sering kali dikritik karena lebih menekankan
pada sistem informasi yang akan dipelajari, sementara itu bagaimana proses
belajar berlangsung dalam diri individu sangat ditentukan oleh sistem informasi
yang dipelajari. Teori ini memandang manusia sebagai pengolah informasi,
pemikir, dan pencipta. Berdasarkan itu, maka diasumsikan bahwa manusia
merupakan makhluk yang mampu mengolah, menyimpan, dan mengorganisasikan
informasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar